Perbedaan Reklamasi Cocomesh dan Hydroseeding

Reklamasi di lahan tambang sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian alam. Namun saat ini banyak yang bingung reklamasi cocomesh dan hydroseeding. Yuk kenali perbedaan reklamasi cocomesh dan hydroseeding!

Cocomesh

Cocomesh adalah jaring dari sabut kelapa yang berguna untuk menahan erosi di lahan kritis. Biasanya cocomesh sering digunakan untuk mendukung reklamasi tambang, pantai, atau hutan. Cocomesh memiliki sifat biodegradable tetapi cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan tanaman baru di lahan Cocomesh di dalam tanah. Selain itu, Cocomesh juga berfungsi untuk menyimpan air dan menjadi sumber bahan organik di dalam tanah.

Keunggulan pembuatan Cocomesh adalah mudah untuk dikerjakan dan tidak memiliki standar kualitas yang spesifik. Hal ini memungkinkan berbagai jenis kualitas bahan mentah yang ada untuk digunakan. Disini cocomesh berperan sebagai media tanam dan media penyimpanan air dan unsur hara agar benih yang ditebar dapat hidup dengan baik di areal reklamasi. Penggunaan Cocomesh dapat ditanam ke dalam tanah selama sekitar satu tahun (dapat terurai secara hayati). Cocomesh kemudian terurai menjadi humus.

Untuk para konsumen jika ingin membeli cocomesh bisa dipesan pada website rumahsabut.com, disana ia menjual cocomesh murah dan berkualitas.

Kegunaan Sabut Kelapa Cocomesh

Cocomesh memiliki banyak kegunaan yaitu:

  • Penghijauan media di lahan bekas tambang
  • Sangat cocok untuk bekas pertambangan dan reklamasi pantai
  • Material tulangan di atas tebing
  • Bahan untuk mencegah erosi
  • Memperkuat tanah
  • Sebagai solusi penguatan rel kereta api
  • Memperkuat jalan atau jembatan tebing

Proses Pemasangan Cocomesh

Pemasangan cocomesh dilakukan sebelum proses reboisasi. Hal ini dilakukan untuk memicu pertumbuhan kembali dan kembalinya kadar baiknya tanah. Pemasangan cocomesh cukup dilakukan dengan membentangkan pada lahan miring yang akan direklamasi. 

Hydroseeding 

Kegiatan reklamasi lahan pasca penambangan dengan vegetasi umumnya dilakukan dengan teknik hydroseeding. Menanam dengan campuran mulsa dan biji adalah definisi umum dari teknik pemuliaan hidro. Hydro artinya air sedangkan tabur artinya benih. Jika ditentukan secara spesifik, hydroseeding adalah metode revegetasi yang menggunakan teknik campuran untuk benih atau biji tanaman, serat dan nutrisi. Campuran tersebut telah diformulasikan secara khusus, kemudian dicampur dan diaduk bersama dalam wadah hydroseeding khusus yang telah diisi air agar tercipta homogenitas.

Hasil pencampuran bahan yang berbeda ini berfungsi untuk menanami kembali lahan yang rusak setelah penambangan berhasil. Penggunaan hydroseeding pada lahan pasca tambang dengan cara disemprotkan ke permukaan tanah. Kandungan mulsa dapat menjaga kadar air benih tetap stabil.

Untuk pemilihan dalam menggunakan hydroseeding di lahan pasca penambangan juga mampu menyebabkan kecambah tumbuh lebih cepat, bisa menutupi lebih banyak lahan, dan dapat mengurangi erosi tanah. Cara alternatif pemecahannya selain menggunakan cara konvensional adalah dengan menabur atau menabur benih kering.

Manfaat Hydroseeding

Ada beberapa keuntungan menggunakan hydroseeding di lahan pasca penambangan. Beberapa di antaranya yang telah didemonstrasikan melalui aplikasi langsung di tempat dirangkum dalam daftar di bawah ini.

  • Menjadi solusi penanaman yang mudah dan cepat untuk area lahan yang luas
  • Penggunaan metode hydroseeding pada lahan setelah penambangan efektif untuk area miring atau area yang tidak dapat dijangkau oleh tenaga manusia
  • Dapat membantu mengendalikan, mengendalikan dan mengurangi laju erosi tanah.
  • Proses perkecambahan biji menjadi lebih tinggi bila waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat.
  • Kandungan mulsa mempercepat proses perkecambahan dan menjaga kadar air benih tetap stabil.
  • Laju penanaman untuk satu unit hydroseeding mencapai 20 hingga 30 hektar per bulan, sedangkan untuk waktu respons terhadap pertumbuhan adalah 3 hingga 6 bulan sebelum lahan dapat ditutup dengan vegetasi. Lebih hemat waktu dan biaya.
  • Dari segi biaya, menggunakan hydroseeding pada areal pasca penambangan dapat meminimalkan atau mengurangi penggunaan humus / subsoil dengan ketebalan lapisan minimal 30 cm. Bahkan ada jaminan sukses meski tidak menggunakan humus.
  • Penggunaan hydroseeding di lahan setelah penambangan merupakan solusi yang tepat untuk berbagai jenis area.
  • Penggunaan hydroseeding pada lahan pasca tambang sangat tepat karena dapat meningkatkan suplai hara ke dalam tanah.

Proses Dengan Metode Hydroseeding

Proses metode ini hanya mencampurkan air dan benih digabungkan untuk membuat formula yang berguna untuk penanaman kembali lahan terdegradasi. Larutan ini diangkut dalam tangki, baik truk atau trailer, dan disemprotkan dengan ringan ke tanah dalam lapisan yang relatif rata dan rata. Mulsa dalam campuran membantu menjaga tingkat kelembaban benih dan petani yang subur. Teknik ini mendorong perkecambahan lebih cepat, lebih banyak penutup tanah dan mengurangi erosi tanah. Cara ini merupakan alternatif dari cara tradisional dalam menabur benih kering.

Nah itulah ulasan mengenai perbedaan reklamasi cocomesh dan hydroseeding yang bisa kalian gunakan untuk melakukan reklamasi. Semoga bermanfaat ya.

BACA JUGA    Game Online Terbaik Terlaris di Indonesia